
Saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram bagi tindakan golput saya tidak terlalu kaget. Hal ini karena sesuai dengan perspektif saya. Namun demikian, bagi saya golput tidak sedekar haram. Golput sama dengan tindakan makar untuk menghancurkan negara ini yang didirikan dengan pengorbanan para pendahulu kita.
Betapa tidak?
Dana, tenaga, serta pikiran yang tercurah untuk melaksanakan pemilu sangat besar. Belum lagi biaya sosial yang dikeluarkan untuk perhelatan akbar bangsa ini.
Memilih dan tidak memilih memang hak pribadi setiap warga negara. Tidak ada paksaan dalam hal ini. Namun, jumlah golput yang tinggi akan mengancam kredibiltas pemimpin negara dan anggota-anggota legislatif kita. Ujung-ujungnya akan menimbulkan rasa ketidakpercayaan rakyat bagi pemimpinnya. Hal ini sangat rentan dapat mengakibatkan hancurnya negara ini.
Memang, kita mungkin sudah sangat jenuh dengan janji-janji pemimpin dan caleg kita. Memandang poster mereka yang berhamburan di tepi jalan menimbulkan kesan betapa besar ambisi mereka berjuang memperoleh kedudukan.
Sementara itu, mereka tidak kita kenal sama sekali, atau bahkan partainya tidak kita minati. Mereka seakan 'mengemis-ngemis' akan suara dan dukungan kita. Kita menjadi sangat 'eman' memberikan suara kita cuma-cuma, kepada mereka yang sangat tidak kita kenal. Jangan-jangan setelah terpilih, mereka melupakan sama sekali kita yang memilihnya. Karena itulah kita menjadi 'enggan' ke bilik suara dan lebih nyaman menjadi golput.
Cinta Tanah Air, Jangan Berharap Banyak pada Caleg
Demi kelangsungan pemerintahan negara ini jangan berharap banyak pada para caleg. Kita menuju bilik suara adalah wujud cinta kita pada tanah air ini, agar negara ini tetap memiliki pemimpin yang 'dianggap kredibel'. Kita masih belajar berdemokrasi.
Menganjurkan golput adalah tindakan makar untuk menghancurkan negara ini. Tidak perlu diikuti biarpun dia tokoh berpengaruh.
Cobalah kita pilih wakil kita dengan sangat cerdas, semoga negara ini menjadi ;ebih baik.
Mari kita sukseskan Pemilu,
BalasHapus.
.
.
Jangan sampai salah pilih!