Wacana Gempa Bumi dalam Cerita Tantu Panggelaran


“Pada jaman Tanah Pulau Jawa sangat labil, sering bergetar atau terguncang-guncang. Seperti sebuah perahu, pulau ini dapat bergeser ke utara saat gelombang besar dan akan bergeser ke arah selatan saat laut surut. Getaran gelombang laut selatan yang sangat besar juga turut menggetarkan tanah Pulau Jawa”, demikianlah gambaran Tanah Pulau Jawa yang sangat labil pada saat itu sebagaimana dalam cerita Tantu Tanggelaran. Hal ini mungkin sebagaimana gambaran tanah Pulau Jawa (atau Indonesia) saat ini yang sangat sering terjadi gempa.

Gempa dan Tsunami, Sudah Suratan Kita


Pada era SBY-JK, berbagai bencana silih berganti muncul melanda negeri ini. Betapa tidak ! Mulai dari tsunami Aceh, Nias, Lapindo, Yogya, Tasikmalaya, dan kini Padang Sumatera Barat. Berbagai komentar miring terkait dengan masa pemerintahan sekarang. Mulai dengan hari pelantikan membawa sial, nama yang mengundang bencana, dan lain-lain. Karena keluarga saya berasal dari Pacitan.

Serta-merta saya menepis komentar miring tersebut dan sangat tidak adil. Mengapa? Karena pada era pemerintah sebelumnya juga terjadi bencana serupa mulai tsunami di Flores, gempa bumi di Nabire, Bengkulu, dan masih banyak lagi. Tampaknya siapa pun presidennya bencana serupa tetap akan terjadi.
Komentar lain dari para rohaniwan dan kyai juga demikian. Bangsa ini sudah sangat buruk perilakunya sehingga Allah layak menimpakan azab. Berbagai istighozah diadakan untuk menurunkan atau menghilangkan adanya bencana tersebut. Namun, bencana tetap saja datang. Lantas dosa apa kita sehingga bencana ini tidak kunjung berhenti.

Golput, Tidak Sekedar Haram


Saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram bagi tindakan golput saya tidak terlalu kaget. Hal ini karena sesuai dengan perspektif saya. Namun demikian, bagi saya golput tidak sedekar haram. Golput sama dengan tindakan makar untuk menghancurkan negara ini yang didirikan dengan pengorbanan para pendahulu kita.

Betapa tidak?
Dana, tenaga, serta pikiran yang tercurah untuk melaksanakan pemilu sangat besar. Belum lagi biaya sosial yang dikeluarkan untuk perhelatan akbar bangsa ini.
Memilih dan tidak memilih memang hak pribadi setiap warga negara. Tidak ada paksaan dalam hal ini. Namun, jumlah golput yang tinggi akan mengancam kredibiltas pemimpin negara dan anggota-anggota legislatif kita. Ujung-ujungnya akan menimbulkan rasa ketidakpercayaan rakyat bagi pemimpinnya. Hal ini sangat rentan dapat mengakibatkan hancurnya negara ini.
Memang, kita mungkin sudah sangat jenuh dengan janji-janji pemimpin dan caleg kita. Memandang poster mereka yang berhamburan di tepi jalan menimbulkan kesan betapa besar ambisi mereka berjuang memperoleh kedudukan.
Sementara itu, mereka tidak kita kenal sama sekali, atau bahkan partainya tidak kita minati. Mereka seakan 'mengemis-ngemis' akan suara dan dukungan kita. Kita menjadi sangat 'eman' memberikan suara kita cuma-cuma, kepada mereka yang sangat tidak kita kenal. Jangan-jangan setelah terpilih, mereka melupakan sama sekali kita yang memilihnya. Karena itulah kita menjadi 'enggan' ke bilik suara dan lebih nyaman menjadi golput.