Caleg, Berjuang Mengubah Gaya Hidup

Suatu hari saya naik motor menuju kampus untuk mengajar. Aku sangat terkesan pada poster Pak Bugiakso yang menyatakan bahwa pemimpin harus siap menderita bagi rakyat. Namun demikian, saya menjadi pesimis kembali saat melihat kenyataan yang ada. Kesan saya, menjadi pemimpin khususnya menjadi DPRD/DPR termasuk pejabat daerah telah terkontaminasi oleh virus ingin mengubah gaya hidup lebih enak, bukan siap menderita.
Saya mempunyai dua rekan, satu dari "partai yang berwarna merah", dan satu dari "partai berwarna putih". Dulu kedua rekan tersebut sama-sama mengajar di kampus yang sama. Sekarang mereka hanya ke kampus tanda tangan dan mengambil gaji.
Yang lebih mengherankan setiap ke kampus yang ditanyakan selalu "adakah orang yang akan jual tanah atau rumah?" Kiranya mereka siap membelinya. Mereka tahu kondisi kami yang serba pas-pasan. Saat ke kampus selalu memamerkan kedua sedan terbarunya.
Rekan dari partai merah sudah menambah dua istri lagi. Saat seorang istrinya dibawa ke kampus, duhhhh cantiknya. Ee... ternyanya dapat dari tempat 'dugem'. Dia pun pernah menawari saya tiket gratis masuk dugem yang memang dunia yang sangat asing bagi saya.
Sementara itu teman yang berasal dari "partai berwarna putih" yang bertetangga rumah dengan saya agak berbeda. Dulu dia yang 'maksum' selalu puasa senin dan kamis, sekarang tidak lagi. Dia sudah punya mobil baru tiga, rumahnya tiga. Dulu isterinya yang sederhana, hanya guru SMP swasta kini berhenti mengajar, malas katanya. Isterinya sekarang juga mencalonkan diri menjadi caleg dari partai yang sama. Demikian juga anaknya yang dulu pengangguran, kini juga dijadikan caleg dari partai yang sama dengan ibunya. Mereka mau menjadi 'dinasti caleg'.



Suatu saat saya mencoba bertanya bagaimana cara seandainya saya menjadi caleg. Serta merta saya dihadapkan pada berbagai kesulitannya termasuk sejumlah uang tak mungkin saya penuhi.
Cerita ini bukan fiksi, alias cerita ini benar-benar nyata. Menjadi caleg tidak lebih dari perjuangan mengubah gaya hidup bergelimang harta.
Idealisme Pak Bugiakso memang sangat bagus, sebagaimana idealisme Pak Dirman yang selalu berjuang dan menderita demi rakyat.
Padahal, rakyat kita yang menderita dan hidup dalam kemiskinan semakin banyak. Masalahnya, maukah para pemimpin dan caleg-daleg kita demikian.
PR Pak Bugiakso banyak, selain memperoleh suara yang banyak dalam pemilu, juga mengubah pola pikir pada pemimpin dan caleg kita agar tidak berpesta di atas kemiskinan dan penderitaan rakyat.

Hidup Pak Bugiakso, Selamat Berjuang !!!!!!!

1 komentar:

  1. Terimakasih atas kunjungannya ke Blog saya Pak. Mengenai Pak Bugiakso, saya cukup banyak membaca profilenya dan cukup bagus serta bersih. Apalagi Pak Bugiakso adalah penerus Jenderal Sudirman yang sangat kita kenal sebagai pahlawan yang tulus memperjuangkan rakyat. Yang lain menikmati kemerdekaan dengan gelimang jabatan dan kekayaannya, tapi Pak Dirman menikmati masa akhirnya dalam keadaan sakit namun tetap terus merakyat. Pak Dirman terus berpuasa karena melihat secara langsung penderitaan rakyat, hingga pesan abadinya : "JANGAN SAMPAI RAKYAT MENDERITA".

    Inilah inspirasi saya sebagai Caleg, saya dari rakyat jelata, saya bukan ingin mengubah Gaya Hidup saya. Tapi saya ingin berbuat lebih banyak lagi untuk rakyat kita. Semoga semakin banyak "orang-orang yang punya kesempatan" untuk memperjuangkan nasib rakyat benar-benar diberikan kesuksesan dalam Pemilu ini sehingga kita bisa memperjuangkan nasib rakyat...


    Salam...
    Moh. Imam. S

    BalasHapus